Sabtu, 21 Mei 2011

Yang Dulu dan Kini 3

Setelah lulus SD, aku melanjutkan sekolah ke SMP Muhammadiyah 9 di pusat Kecamatan tempat tinggalku. Waktu itu Bapak yang memilihkan aku harus sekolah ditempat itu. Mungkin karena alasan Ideologi organisasi, ya waktu itu aku hanya bisa ikut saja. Kakakku juga alumni SMP Muhammadiyah 9.
Hanya aku dari sekian banyak teman sekelas waktu SD yang melanjutkan sekolah ke SMP Muhammadiyah 9. Semua temanku memilih melanjutkan sekolah ke SMP yang lebih bergengsi, yang lebih layak disebut Sekolah Menengah Pertama (SMP), kenapa aku bilang begitu, karena aku merasa SMP ku waktu itu boleh dibilang belum layak disebut SMP, Kenapa? nanti juga akan ketemu jawabannya ..... 
---------------Dan perjalananku menjadi murid SMP berawal dari sini.......
Aku masih ingat waktu aku mendaftar pertama kali menjadi calon murid SMP, perasaanku sangat senang. Maklum, aku pikir waktu itu aku akan menjadi orang yang lebih berani (berani naik "KOL", sebutan angkot didaerahku) karena pasti aku harus setiap hari naik kol menuju sekolah. Dan waktu mendaftar di SMP, aku adalah calon murid yang pertama mendaftar. Hmmm, aku memang harus cerita banyak tentang suka duka menjadi murid di SMP Muhammadiyah 9. 
SMP ku itu merupakan SMP yang kalo boleh jujur adalah SMP yang paling memprihatinkan dikecamatanku. Bayangkan, dari setiap kelas 1,2 dan 3 jumlah muridnya tidak lebih dari 20 anak, tapi waktu itu kelasku ada 27 anak. Jelas jumlah yang sangat sedikit dibanding dengan SMP-SMP lain dikecamatanku. 
---------Kelas 1, aku selalu mendapat peringkat pertama dikelas. Bahkan aku masih ingat, seluruh soal-soal harian yang diberikan guru waktu mengajar, selalu berhasil aku selesaikan dengan nilai sempurna, 10. Excelent!! hehe... Aku memang merasa menjadi murid yang paling pintar waktu itu (bukan mermaksud sombong, tapi emang kenyataan...hehehe). Sejak saat itu aku menjadi murid primadona oleh guru-guru disekolah. 
Ohya, kelas 1 aku sudah menemukan sosok seorang sahabat. Namanya Husen dan Arip. Kalo si Husen wajahnya sih mirip-mirip orang Negro, dan si Arip malah mirip sama orang Cina tak heran kalo kemudian Arip lebih dikenal dengan panggilan "Kacong". Sampai saat ini aku masih belum bisa lupa sama mereka. Mungkin karena waktu itu hubungan persahabatanku dengan mereka sangat kuat. Disekolah aku dan kedua sahabatku itu tak pernah pisah, kita selalu kompak. Bermain, mengerjakan tugas selalu bersama. Bahkan kalo bolos pun kita selalu bareng. . . hehe (aku juga mulai sering bolos). Kalo bolos, aku dan kedua sahabatku itu punya tempat andalan, ke pasar dan nongkrong pinggir kali. hahaha...... Tapi sayang saat ini aku sudah putus komunikasi dengan mereka, terakhir aku berkomunikasi dengan Husen 4 tahun yang lalu. Waktu itu Husen yang datang kerumahku pas libur lebaran. Kalo sama si Arip, sejak lulus SMP sampai sekarang ini aku tak pernah berkomunikasi lagi, kurang lebih sudah 8 tahun. 
-----------Awalnya aku sangat senang sekolah di SMP Muhammadiyah 9,  tapi lambat laun rasa senang itu berubah menjadi rasa sedih boleh dibilang prihatin. Bahkan aku waktu itu malu ketika ditanya orang, "sekolah dimana?"..... (itu satu pertanyaan yang sangat aku tidak harapkan). Motivasiku untuk sekolah hilang gara-gara banyak hal. Aku merasa SMP ku nggak bisa menjadi rumah kedua untukku. 
-------------to be continue------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar