Selasa, 08 Januari 2013

KKN-Stori 2



Dalam tulisanku ini aku sengaja belum menulis tentang bagaimana "menantangnya" medan jalan yang harus aku tempuh untuk menuju TKP KKN didusun Dadapan Kulon desa Bendosari Pujon., seperti yang aku rencanakan ditulisanku yang pertama KKN-Stori 1. Tapi tulisan ini akan lebih menceritakan how I can get little negotiation experience. Check this out! .. hehe
Observasi kali ini lebih memprioritaskan amanat keputusan rapat (6/01/2013), yaitu rencana kesepakatan biaya sewa tempat tinggal dan biaya makan kelompok KKN 15 dengan pihak pemilik rumah di dusun Dadapan Kulon. Bersama Mas Yeni (perangkat Desa Bendosari sekaligus Guide kelompok KKN kita), Kami (Pak Kordes, mas Pendi, mas Aditya dan juga saya), melakukan serangkaian pendekatan komunikasi dengan keluarga pemilik rumah (kakak dari mas Yeni) untuk melakukan negosiasi seputar nominal yang harus dibayarkan terkait sewa tiga rumah dan biaya makan selama satu bulan.
Secara umum, komunikasi berjalan cukup hangat dan efektif bahkan tidak terjadi ketegangan sedikitpun, semua berjalan dengan suasana kekeluargaan. Pak Kordes yang diberi kesempatan berbicara, mengawali pembicaraan dengan menyampaikan maksud kedatangan serta paparan hasil keputusan rapat bahwa anggaran untuk sewa tempat tinggal dan biaya makan kelompok kita dibatasi dalam jumlah angka rupiah (meski Rp. 11,5 juta tidak terucap secara eksplisif).
Saya yang juga berkesempatan berbicara juga menguatkan maksud Pak Kordes dengan sedikit menjelaskan skema pembayaran. Yaitu, untuk makan dua kali sehari dan harga sewa satu rumah selama seminggu akan mengeluarkan biaya Rp.2,5 juta dan akan dibayar dalam setiap minggu selama satu bulan. Respon keluarga (didalam rumah, ada mas Yeni, bapak, ibu pemilik rumah) cukup positif. Namun belum selesai menjelaskan skema pembayaran yang terbaik, Bapak pemilik rumah buru-buru mengatakan bahwa apapun yang menjadi kekuatan kita (keuangan),  mereka akan menerima dengan senang hati, keluarga tidak mematok harga ataupun menawar harga yang kita tawarkan, hanya keluarga Bapak tadi memberikan pesan bahwa apabila nanti jadi untuk tinggal dan makan dirumah Bapak, beliau hanya minta maaf apabila masakan yang dihidangkan tidak sesuai selera, maklum masakan orang desa berbeda dengan orang kota, begitu pesannya. Selain itu, hal-hal yang mungkin nanti berpotensi menimbulkan konflik, seperti kita mengeluh akan rasa masakan, makanan yang dihidangkan itu-itu saja hendaknya jangan sampai terjadi. Yang terpenting kita semua harus pandai-pandai bertenggang rasa dan saling menjaga perasaan. Pungkasnya”.
Karena kelompok kita akan menggunakan tiga rumah sebagai tempat tinggal, dan satu diantara tiga rumah itu bukan keluarga dari mas Yeni, maka pihak keluarga mas Yeni dan kita sepakat untuk membedakan biaya yang harus dibayar untuk satu rumah itu dengan himbauan agar kita melakukan negosiasi tersendiri. Lalu, kita dan mas Yeni pun mendatangi rumah yang dimaksud dan menemuinya pemiliknya. Tidak butuh waktu lama untuk kita dan pemilik rumah dapat memutuskan biaya sewa rumah dalam satu bulan. Dan disepakatilah biaya sewa rumah yaitu dengan nominal 400 ribu. Sekedar catatan, bahwa nantinya rumah ini akan ditempati 10 orang anggota kelompok kita.
Sementara salah satu rumah sudah deal, maka misi kita selanjutnya adalah segera melakukan kesepakatan dengan mas Yeni dan keluarga kakaknya. Diperjalanan dari rumah yang barusan “telah dibereskan”, kita mencoba melakukan pendekatan kepada mas Yeni dengan memberikan oret-oretan kecil bahwa anggaran kelompok kita untuk biaya makan dan sewa tempat tinggal adalah 10 juta, dan itu termasuk 1 juta untuk biaya konsumsi isidental (konsumsi selama event program kerja), jadi mas Yeni kami tunjukkan itung-itungan:
10.000.000 – 1.000.000 (isidental) = 9.000.000 (anggaran sewa rumah dan konsumsi)
Jadi. Dari Rp.9.000.000,- sudah dikurang Rp.400.000,- (sewa satu rumah) masih sisa Rp. 8.600.000,-.
Dan nominal Rp.8.600.000,- inilah yang menjadi anggaran yang akan siap terpakai untuk paket pembiayaan kepada kelurga mas Yeni. (sewa rumah mas Yeni, sewa rumah kakak mas Yeni dan biaya makan kelompok kita selama sebulan). Dan kalau dibagi menurut perminggu, maka dalam satu minggu kita hanya akan membayar (Rp.8.600.000,- : 4)= Rp.2.150.000,-/minggu
Sebuah hasil negosiasi yang menggembirakan untuk kelompok KKN 15 tentunya.
(maaf, angka 10 juta yang kita sodorkan kepada mas Yeni itu sesungguhnya sangat situasional, karena kita teringat bahwa kelompok kita memang belum menganggarkan biaya konsumsi untuk setiap event yang akan dilaksanakan, maka kami mencoba peruntungan dengan melobi mas Yeni agar sepakat kalau skema pembayaran untuk keluarga mas yeni tidak spesifik menyebut nominal angka untuk sewa rumah, melainkan sudah sepaket dengan biaya makan kita dalam seminggu yaitu Rp.2.150.000,-. Dan moto “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui” alhamdulillah membuahkan hasil. Selain dapat menghemat 2,5 juta dari anggaran yang disepakati dalam rapat kelompok, minimal langkah kecil kita ini akan memacu semangat semua anggota kelompok KKN 15 agar selalu melakukan yang TERBAIK UNTUK TUJUAN BERSAMA!, amin.)

Senin, 07 Januari 2013

KKN-Stori 1

Katanya, perjalanan observasi ditempat KKN Desa Bendosari daerah Pujon sangat menantang. Bagaimana tidak, menurut penjelasan Bapak Kordes Yang terhormat Ainun Najib, S.HI (gelarnya masih calon) haha…, jarak tempuh dari titik nol kampus UMM kurang lebih 45 menit dengan kecepatan naik motor 60km/jam dengan medan jalan yang ekstrim. Aku pun memutuskan untuk ikut bergabung dalam “rombongan” observasi jilid III ini. Aku rencana naik motor membonceng mas Pendi, sedangkan pak Kordes membonceng mas Aditya. Kita sepakat kumpul jam 07.00 didepan BNI kampus. Kalau ngomongin jam kumpul, tau sendiri kan, pasti yang akan terjadi adalah kengaretan atau istilah kerennya moooooolorr dari waktu yang disepakati…hehe.
Itupun terjadi, Aku sendiri baru tiba digapura masuk kampus pukul 07.25, dan langsung berpapasan dengan Pak Kordes yang mengarah keluar, kita pun sama-sama berhenti. Aku tanya, kemana mas?” ..”bentar mas, saya mau ngantar sarapan buat temen dulu, bentar lagi saya kesana. Tadi aku nunggu mulai jam 7 didepan BNI tak piker sampeyan sudah datang” Kata Pak Kordes. Oke mas, jawabku”. Ngomong-ngomong soal nganterin makanan pak Kordes tadi, Aku sih percaya, karena Aku liat tangan kiri pak kordes seperti menggenggam bungkusan makanan, tapi aku nyeletuk dalam hati, pasti yang mau sarapan bukan temennya, tapi pak Kordes sendiri… hehehehe. Lalu, kita pun berpisah, Aku lanjut menuju BNI dan Pak Kordes menuju arah Jalan Tlogomas. Selang 20 menit kemudian Pak Kordes tiba di BNI, berarti tingal nunggu mas Pendi datang. Sekedar informasi dari Pak Kordes, mas Aditya nggak bisa ikut kumpul di BNI karena maunya dijemput dikosannya… ckckckc, berasa istimewa orang ini!! … hehe. Karena nunggu mas Pendi yang belum kelihatan batang hidungnya, saya dengan Pak Kordes sedikit bingung, jam Eiger yang aku pakai menunjukkan 07.47, tanda-tanda kemunculan mas pendi pun belum ada, mau sms dia aku nggak punya nomor hp-nya. Karena mas pendi satu bidang sama mas Andre (CO Kesehatan), pak Kordes Aku saranin buat sms mas Andre sapa tau punya nomor mas Pendi. Tapi sayangnya Bapak Kordes kita ini juga nggak punya nomor mas Andre… ckckckck, komplit dah.
Dengan sedikit bingung dan seolah membenarkan,” Gimana kalo mas Pendi kita tinggal aja, toh juga kesepakatan kita jam 7 tadi udah harus kumpul” saranku ke Pak Kordes. Pak Kordes diam bentar trus bilang, Ok wes... Budal!!.
Tujuan berikutnya adalah kosannya mas Aditya. Nggak butuh waktu lama untuk njemput mas Aditya, karena sebelum kumpul di BNI ternyata Pak Kordes pagi-pagi sudah lebih dulu kesana buat mbangunin mas Aditya… hehe, Bapak Kordes yang Baik Hati…. :D . Pukul 07.59 akhirnya rombongan meninggalkan Jl. Margo Utomo dimana kosan mas aditya terlihat di GPS …hehe, sampai di mulut jalan. Aku bilang sama pak Kordes, “ Mas, sampeyan tunggu sebentar disini ya, sapa tau mas Pendi uda di BNI”… Oh iya,” jawab pak Kordes.
Aku segera meluncur ke kampus lagi. Nyampe’ lewat jalan turunan samping masjid, Aku melempar pandangan ke arah BNI, dan orang yang aku cari nggak kelihatan. Dan pas Aku liat tangga Masjid, akhirnya sosok Mas Pendi yang seorang anggota bidang kesehatan KKN kelompok 15 terlihat juga dengan sambil menenteng helm warna putih. Segera aku melambaikan tangan seolah tanda mengajak. “Ayo mas, berangkat, Mas Najib sama mas Aditya sudah siap diatas.” Kata ku. Nggak ada 3 detik Aku selesai ngomong, eh ternyata motor Pak Kordes dan Mas Aditya berhenti pas disebelahku. Oke”….jawab mas Pendi. Dan akhirnya kita semua bisa berkumpul di BNI tepat pukul 08.03, yang artinya molor 1 jam 3 menit dari kesepakatan kemarin… haha

Pelajaran hari ini: “Jangan pernah ninggalin seorang teman yang sudah janjian, sampai ada kabar pasti dia nggak jadi ikut!”….. :D

Akhirnya, rombongan segera meluncur ke TKP KKN Desa Bendosari.

#Just_4_fun, …(bersambung)