Dalam tulisanku ini aku sengaja belum menulis tentang bagaimana "menantangnya" medan jalan yang harus aku tempuh untuk menuju TKP KKN didusun Dadapan Kulon desa Bendosari Pujon., seperti yang aku rencanakan ditulisanku yang pertama KKN-Stori 1. Tapi tulisan ini akan lebih menceritakan how I can get little negotiation experience. Check this out! .. hehe
Observasi kali ini lebih
memprioritaskan amanat keputusan rapat (6/01/2013), yaitu rencana kesepakatan
biaya sewa tempat tinggal dan biaya makan kelompok KKN 15 dengan pihak pemilik
rumah di dusun Dadapan Kulon. Bersama Mas Yeni (perangkat Desa Bendosari
sekaligus Guide kelompok KKN kita), Kami (Pak Kordes, mas Pendi, mas Aditya dan
juga saya), melakukan serangkaian pendekatan komunikasi dengan keluarga pemilik
rumah (kakak dari mas Yeni) untuk melakukan negosiasi seputar nominal yang
harus dibayarkan terkait sewa tiga rumah dan biaya makan selama satu bulan.
Secara umum, komunikasi berjalan
cukup hangat dan efektif bahkan tidak terjadi ketegangan sedikitpun, semua
berjalan dengan suasana kekeluargaan. Pak Kordes yang diberi kesempatan
berbicara, mengawali pembicaraan dengan menyampaikan maksud kedatangan serta
paparan hasil keputusan rapat bahwa anggaran untuk sewa tempat tinggal dan
biaya makan kelompok kita dibatasi dalam jumlah angka rupiah (meski Rp. 11,5
juta tidak terucap secara eksplisif).
Saya yang juga berkesempatan
berbicara juga menguatkan maksud Pak Kordes dengan sedikit menjelaskan skema
pembayaran. Yaitu, untuk makan dua kali sehari dan harga sewa satu rumah selama
seminggu akan mengeluarkan biaya Rp.2,5 juta dan akan dibayar dalam setiap
minggu selama satu bulan. Respon keluarga (didalam rumah, ada mas Yeni, bapak,
ibu pemilik rumah) cukup positif. Namun belum selesai menjelaskan skema
pembayaran yang terbaik, Bapak pemilik rumah buru-buru mengatakan bahwa apapun
yang menjadi kekuatan kita (keuangan),
mereka akan menerima dengan senang hati, keluarga tidak mematok harga
ataupun menawar harga yang kita tawarkan, hanya keluarga Bapak tadi memberikan
pesan bahwa apabila nanti jadi untuk tinggal dan makan dirumah Bapak, beliau
hanya minta maaf apabila masakan yang dihidangkan tidak sesuai selera, maklum
masakan orang desa berbeda dengan orang kota, begitu pesannya. Selain itu,
hal-hal yang mungkin nanti berpotensi menimbulkan konflik, seperti kita
mengeluh akan rasa masakan, makanan yang dihidangkan itu-itu saja hendaknya
jangan sampai terjadi. Yang terpenting kita semua harus pandai-pandai
bertenggang rasa dan saling menjaga perasaan. Pungkasnya”.
Karena kelompok kita akan
menggunakan tiga rumah sebagai tempat tinggal, dan satu diantara tiga rumah itu
bukan keluarga dari mas Yeni, maka pihak keluarga mas Yeni dan kita sepakat
untuk membedakan biaya yang harus dibayar untuk satu rumah itu dengan himbauan
agar kita melakukan negosiasi tersendiri. Lalu, kita dan mas Yeni pun
mendatangi rumah yang dimaksud dan menemuinya pemiliknya. Tidak butuh waktu
lama untuk kita dan pemilik rumah dapat memutuskan biaya sewa rumah dalam satu
bulan. Dan disepakatilah biaya sewa rumah yaitu dengan nominal 400 ribu.
Sekedar catatan, bahwa nantinya rumah ini akan ditempati 10 orang anggota
kelompok kita.
Sementara salah satu rumah sudah
deal, maka misi kita selanjutnya
adalah segera melakukan kesepakatan dengan mas Yeni dan keluarga kakaknya.
Diperjalanan dari rumah yang barusan “telah dibereskan”, kita mencoba melakukan
pendekatan kepada mas Yeni dengan memberikan oret-oretan kecil bahwa anggaran
kelompok kita untuk biaya makan dan sewa tempat tinggal adalah 10 juta, dan itu
termasuk 1 juta untuk biaya konsumsi isidental (konsumsi selama event program
kerja), jadi mas Yeni kami tunjukkan itung-itungan:
10.000.000 – 1.000.000 (isidental) = 9.000.000 (anggaran sewa rumah dan konsumsi)
Jadi. Dari Rp.9.000.000,- sudah dikurang
Rp.400.000,- (sewa satu rumah) masih sisa Rp. 8.600.000,-.
Dan nominal Rp.8.600.000,- inilah yang
menjadi anggaran yang akan siap terpakai untuk paket pembiayaan kepada kelurga
mas Yeni. (sewa rumah mas Yeni, sewa rumah kakak mas Yeni dan biaya makan
kelompok kita selama sebulan). Dan kalau dibagi menurut perminggu, maka dalam
satu minggu kita hanya akan membayar (Rp.8.600.000,- : 4)= Rp.2.150.000,-/minggu
Sebuah hasil negosiasi yang menggembirakan
untuk kelompok KKN 15 tentunya.
(maaf, angka 10 juta yang kita
sodorkan kepada mas Yeni itu sesungguhnya sangat situasional, karena kita
teringat bahwa kelompok kita memang belum menganggarkan biaya konsumsi untuk
setiap event yang akan dilaksanakan, maka kami mencoba peruntungan dengan
melobi mas Yeni agar sepakat kalau skema pembayaran untuk keluarga mas yeni
tidak spesifik menyebut nominal angka untuk sewa rumah, melainkan sudah sepaket
dengan biaya makan kita dalam seminggu yaitu Rp.2.150.000,-. Dan moto “sekali
mendayung, dua tiga pulau terlampaui” alhamdulillah membuahkan hasil. Selain
dapat menghemat 2,5 juta dari anggaran yang disepakati dalam rapat kelompok,
minimal langkah kecil kita ini akan memacu semangat semua anggota kelompok KKN
15 agar selalu melakukan yang TERBAIK UNTUK TUJUAN BERSAMA!, amin.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar