Merayakan pergantian tahun adalah momen langka yang tidak tiap hari
dapat dijumpai. Bersama 6 orang teman, Aku menikmati malam pergantian
tahun baru dengan acara camping di Paltuding - Kawah Ijen.
Sedikitnya
ada seribuan lebih wisatawan lain yang juga turut merayakan malam
pergantian tahun disalah satu objek wisata terkenal di kabupaten
Banyuwangi ini.
Dengan mendirikan tenda-tenda, aku dan wisatawan lain mulai memenuhi padang rumput Paltuding sejak sore hari (31/12/2013).
Walau
cuaca saat itu tidak bersahabat (mendung saat sore dan diikuti hujan
deras saat malam hari), kebersamaan kami para penikmat malam tahun baru
tidak berkurang sedikitpun. Ditambah juga suhu dingin pegunungan di Ijen
tidak menghalangi semangat para wisatawan untuk beraktifitas. Menurut
seorang penjual kopi, suhu dingin di Paltuding sore itu tercatat 7
derajat celcius.
Walau demikian, gerak aktivitas
para wisatawan masih tergolong tinggi. Terlihat ada yang mencari kayu
bakar, menata kayu untuk api unggun, ada yang sudah membakar kayu untuk
perapian, ada yang membantu mendirikan tenda milik rekan yang lain,
membeli logistik makanan dari penjual di areal parkir, juga ada yang
tampak mengantre di toilet yang cuman 2 pintu. (ini nih fasilitas yang
kurang: TOILET) Huh!
Aktivitas kelompokku sore itu
juga demikian, karena kami sewa 1 tenda dan sudah siap pakai, jadi kami
hanya memasang 1 tenda yang dibawa dari rumah. Sekedar informasi, 'Si
Bos Besar' kami telah menyewa 1 tenda di Paltuding untuk satu hari
semalam seharga 100 ribu. Cukup murah karena selain tendanya tergolong
baru, tenda yang kami sewa juga dapat menampung tiga orang.
Hari
mulai beranjak malam, jam tanganku menunjukkan pukul 18.42 waktu
Indonesia barat. Hawa dingin kawasan Paltuding - Kawah Ijen mulai
mencapai puncaknya. Kabut tebal sore yang turun dari puncak gunung mulai
tak terlihat karena terganti dengan pekatnya langit malam.
Dan
hujan mulai turun perlahan, lalu disusul angin gunung yang serasa
menusuk sampai ketulang bahkan terasa sampai ke bagian sumsum. Hehe....
Aku yang berangkat dari rumah sudah sedikit tak enak bodi, akhirnya drop
dan sering banyak menghabiskan waktu rebahan didalam tenda. Dengan
jaket masih menempel dibadan ditambah dengan kain sarung yang terlilit
rapi dikaki, aku mulai nyaman mendapat sensasi kehangatan walau tak
bertahan lama.
Akhirnya hujan deras mulai turun
sekitar jam 8 malam. Awalnya kami yang sedang asik membakar ikan diluar,
terpaksa harus masuk kedalam tenda untuk terhindar dari air es yang
mengucur deras dari langit ....... Hehe, grrrrrrrrrrrr.
Hujan
baru sedikit reda pukul 11. Praktis rencana bakar-bakaran ikan sedikit
terganggu. Hanya sekitar 10 ekor ikan yang malam itu benar-benar diolah
dan dimakan. Sisanya sekitar 50 ekor masih setia menunggu didalam kotak
boks es sambil tiduran rapi.
Diluar, ternyata juga
tidak banyak aktivitas yang terlihat dari wisatawan lain. Karena masih
hujan mungkin mereka berpikir lebih enak berbagi kehangatan didalam
tenda. Entah kehangatan apa, yang pasti kehangatan memang barang mahal
bila sedang di pegunungan. ..... ckckck
Aku,
Sungging dan Mira hanya selonjor pasrah menunggu hujan benar-benar reda.
Minyak kayu putih, koyo cabe, keripik pisang dan sedikit biskuit yang
dibawa Sungging dari rumah menjadi menu pelengkapku untuk malam itu.
Terbukti, nyamil jajan saat kedinginan membuat badan sedikit hangat.
Mungkin karena mulut tak berhenti gerak dan perut terus-terusan terisi
membuat suhu badan mulai panas. .... haha.
Sementara
itu, entah kenapa batuk yang aku bawa dari rumah seakan bertambah
menyiksa perjalananku bersenang-senang camping di Paltuding. Jalan
sebentar saja nafas sudah terengah-engah. Terasa sakit seperti
dicubit-cubit. Kalau dicubit tapi cubitan mesra sih enak, masalahnya ini
kayak dicubit penjepit kain jemuran....... Sakiiit beud! ...... hehehe
Gara-gara
suara nafasku terdengar lucu, seorang teman nyeletuk, "Har, har, durung
urip nang Eropa ae awakmu wes nggeregeli". Aku yang mendengarnya cuman
bisa senyum, tapi juga akhirnya njawab "Yo lak nang Eropa ademe bedo
rek, nang kono ademe adem enak, lah lak seng nang kene ademe nggarai
loro awak" betul to?? haha ....
Malam menuju pukul
00.00 terasa lama, di tenda depan, Panji, Koyek, Saiful, dan Dayat
bergumul bersama dengan sesaji khas penghilang rasa dingin. Entah ritual
apa yang sebenarnya mereka lakukan, tapi yang pasti gelagat mereka
mirip orang-orang dalam cerita lagu yang sekarang lagi hit di program
YKS Trans TV. Goyang oplosan euy!!
Pett.............
Tiba-tiba lampu padam. Alhasil kawasan Paltuding gelap gulita. Sungging
yang sedang rebahan ditenda langsung njingkrak bangun sambil sedikit
teriak "Tahuun Baruuuuuu .............", tak lama berselang suara gaduh
kembang api mulai saling bersautan. Daaar.... duuooooor, Daar ,
duuuorrr...... begitulah.
Dan akhirnya kami semua betul-betul menjadi saksi detik pergantian tahun 2013 ke 2014. Happy New Year!!
#Berkisah/36
Tidak ada komentar:
Posting Komentar