Minggu, 05 Januari 2014

Malam Tahun Baru Camping di Paltuding - Kawah Ijen

Merayakan pergantian tahun adalah momen langka yang tidak tiap hari dapat dijumpai. Bersama 6 orang teman, Aku menikmati malam pergantian tahun baru dengan acara camping di Paltuding - Kawah Ijen.

Sedikitnya ada seribuan lebih wisatawan lain yang juga turut merayakan malam pergantian tahun disalah satu objek wisata terkenal di kabupaten Banyuwangi ini.

Dengan mendirikan tenda-tenda, aku dan wisatawan lain mulai memenuhi padang rumput Paltuding sejak sore hari (31/12/2013).

Walau cuaca saat itu tidak bersahabat (mendung saat sore dan diikuti hujan deras saat malam hari), kebersamaan kami para penikmat malam tahun baru tidak berkurang sedikitpun. Ditambah juga suhu dingin pegunungan di Ijen tidak menghalangi semangat para wisatawan untuk beraktifitas. Menurut seorang penjual kopi, suhu dingin di Paltuding sore itu tercatat 7 derajat celcius.

Walau demikian, gerak aktivitas para wisatawan masih tergolong tinggi. Terlihat ada yang mencari kayu bakar, menata kayu untuk api unggun, ada yang sudah membakar kayu untuk perapian, ada yang membantu mendirikan tenda milik rekan yang lain, membeli logistik makanan dari penjual di areal parkir, juga ada yang tampak mengantre di toilet yang cuman 2 pintu. (ini nih fasilitas yang kurang: TOILET) Huh!

Aktivitas kelompokku sore itu juga demikian, karena kami sewa 1 tenda dan sudah siap pakai, jadi kami hanya memasang 1 tenda yang dibawa dari rumah. Sekedar informasi, 'Si Bos Besar' kami telah menyewa 1 tenda di Paltuding untuk satu hari semalam seharga 100 ribu. Cukup murah karena selain tendanya tergolong baru, tenda yang kami sewa juga dapat menampung tiga orang.

Hari mulai beranjak malam, jam tanganku menunjukkan pukul 18.42 waktu Indonesia barat. Hawa dingin kawasan Paltuding - Kawah Ijen mulai mencapai puncaknya. Kabut tebal sore yang turun dari puncak gunung mulai tak terlihat karena terganti dengan pekatnya langit malam.

Dan hujan mulai turun perlahan, lalu disusul angin gunung yang serasa menusuk sampai ketulang bahkan terasa sampai ke bagian sumsum. Hehe.... Aku yang berangkat dari rumah sudah sedikit tak enak bodi, akhirnya drop dan sering banyak menghabiskan waktu rebahan didalam tenda. Dengan jaket masih menempel dibadan ditambah dengan kain sarung yang terlilit rapi dikaki, aku mulai nyaman mendapat sensasi kehangatan walau tak bertahan lama.

Akhirnya hujan deras mulai turun sekitar jam 8 malam. Awalnya kami yang sedang asik membakar ikan diluar, terpaksa harus masuk kedalam tenda untuk terhindar dari air es yang mengucur deras dari langit ....... Hehe, grrrrrrrrrrrr.

Hujan baru sedikit reda pukul 11. Praktis rencana bakar-bakaran ikan sedikit terganggu. Hanya sekitar 10 ekor ikan yang malam itu benar-benar diolah dan dimakan. Sisanya sekitar 50 ekor masih setia menunggu didalam kotak boks es sambil tiduran rapi.

Diluar, ternyata juga tidak banyak aktivitas yang terlihat dari wisatawan lain. Karena masih hujan mungkin mereka berpikir lebih enak berbagi kehangatan didalam tenda. Entah kehangatan apa, yang pasti kehangatan memang barang mahal bila sedang di pegunungan. ..... ckckck

Aku, Sungging dan Mira hanya selonjor pasrah menunggu hujan benar-benar reda. Minyak kayu putih, koyo cabe, keripik pisang dan sedikit biskuit yang dibawa Sungging dari rumah menjadi menu pelengkapku untuk malam itu. Terbukti, nyamil jajan saat kedinginan membuat badan sedikit hangat. Mungkin karena mulut tak berhenti gerak dan perut terus-terusan terisi membuat suhu badan mulai panas. .... haha.

Sementara itu, entah kenapa batuk yang aku bawa dari rumah seakan bertambah menyiksa perjalananku bersenang-senang camping di Paltuding. Jalan sebentar saja nafas sudah terengah-engah. Terasa sakit seperti dicubit-cubit. Kalau dicubit tapi cubitan mesra sih enak, masalahnya ini kayak dicubit penjepit kain jemuran....... Sakiiit beud! ...... hehehe

Gara-gara suara nafasku terdengar lucu, seorang teman nyeletuk, "Har, har, durung urip nang Eropa ae awakmu wes nggeregeli". Aku yang mendengarnya cuman bisa senyum, tapi juga akhirnya njawab "Yo lak nang Eropa ademe bedo rek, nang kono ademe adem enak, lah lak seng nang kene ademe nggarai loro awak" betul to?? haha ....

Malam menuju pukul 00.00 terasa lama, di tenda depan, Panji, Koyek, Saiful, dan Dayat bergumul bersama dengan sesaji khas penghilang rasa dingin. Entah ritual apa yang sebenarnya mereka lakukan, tapi yang pasti gelagat mereka mirip orang-orang dalam cerita lagu yang sekarang lagi hit di program YKS Trans TV. Goyang oplosan euy!!

Pett............. Tiba-tiba lampu padam. Alhasil kawasan Paltuding gelap gulita. Sungging yang sedang rebahan ditenda langsung njingkrak bangun sambil sedikit teriak "Tahuun Baruuuuuu .............", tak lama berselang suara gaduh kembang api mulai saling bersautan. Daaar.... duuooooor, Daar , duuuorrr...... begitulah.

Dan akhirnya kami semua betul-betul menjadi saksi detik pergantian tahun 2013 ke 2014. Happy New Year!!


#Berkisah/36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar