Jumat, 20 Desember 2013

"KOL" Dulu Kau Primadona, Kini Kau Beranjak Punah

Aku mulai mengerti perbedaan angkutan umum dengan kendaraan pribadi saat masih sekolah dasar. Kalau tidak salah saat aku masih kelas 1 SD.

Ceritanya, suatu siang hari Jum'at aku bersama bapak hendak kerumah nenek dengan naik 'Kol' (sebutan angkutan umum) di daerah tempat tinggalku Banyuwangi. Rumah nenek yang berada di lain kecamatan, mengharuskan kami untuk menempuh dengan cara naik Kol ataupun Bis. Maklum, keluarga kala itu belum memiliki kendaraan pribadi, kecuali hanya sebuah sepeda 'mini' milik kakak. Jadi, bila ingin bepergian, kami harus selalu naik angkutan umum.

Berdiri dipinggir jalan di bawah pohon waru. Aku dan bapak dengan setia menunggu kedatangan Kol walau agak lama. Teringat sesekali bapak nampak
berdiri lalu duduk di jodok panjang saat aku tengah sibuk memungut bunga waru yang banyak berserakan.

Yah. Waktu itu dua pohon waru dipinggir jalan tengah berbunga.
Bunga-bunga dengan warna kuning cerah dan kecoklatan berserakan memenuhi latar bengkel motor tempat kami menunggu angkutan yang akan
mengantarkan kami kerumah nenek.

Teringat juga kala itu aku melemparkan banyak bunga waru ketengah jalan. Dengan perasaan girang aku melihat bunga-bunga waru dilindas kendaraan yang melintas. Sesekali, aku juga tampil berani melambaikan tangan kiri kesetiap kendaraan yang tengah melaju. Berharap ada kendaraan yang akan berhenti.

Akhirnya setelah menunggu lama, satu montor (nama lain mobil) yang tak lain adalah Kol perlahan menepi. Lalu, aku dan bapak pun bergegas naik masuk ke dalamnya.

Selama diperjalanan, bapak mulai bercerita kalau tidak semua mobil yang aku coba cegat selama menunggu adalah Kol atau kendaraan umum yang bisa kami tumpangi.

Bapak mengatakan, ada perbedaan antara kol dan montor-montor yang lain. "Lihat mobil itu, plat tulisan angkanya warnanya kuning, dan itulah Kol". Ujarnya sambil menunjuk pada mobil yang diseberang jalan.

"Kalau yang plat nomor angka warna hitam itu bukan Kol, tapi kendaraan pribadi. Dan tidak akan berhenti kalau dicegat. Yang platnya juga warna kuning yaitu
bis. Lebih besar daripada Kol. Dan kalau dicegat pasti mau berhenti". Ceritanya.

Sejak saat itu aku tahu perbedaan kendaraan/transportasi umum dengan kendaraan pribadi. Aku tahu mana mobil yang bisa aku cegat, ataupun tidak.

Kini, setelah aku dewasa. Ilmu sederhana yang disampaikan bapak waktu itu ternyata masih jelas membekas. Yah, rasanya memang nasihat atau ilmu yang diperoleh dari orang tua lah, yang lebih mudah akan kita ingat daripada ilmu yang kita peroleh dibangku sekolah.

Belasan tahun berlalu, sekarang bila aku sedang di kampung halaman. Kol sudah mulai
jarang aku temui. Gara-garanya mungkin tak lain karena masyarakat sudah mulai banyak memiliki kendaraan pribadi, sehingga penumpang Kol sangat
jauh berkurang. Padahal, dulu Kol selalu penuh dengan penumpang.
Terlebih saat pagi hari. Tampak para pelajar SMP maupun SMA berebut masuk terlebih dulu untuk bisa duduk di Kol dengan nyaman.

Sang waktu begitu cepat berlalu. KOL yang dulu menjadi primadona, kini riwayatnya seakan beranjak punah.

Akhir kata: Ayo! Jangan lupa naik transportasi umum .....


#Berkisah/32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar