Aku mulai mengerti perbedaan angkutan umum dengan kendaraan pribadi saat
masih sekolah dasar. Kalau tidak salah saat aku masih kelas 1 SD.
Ceritanya, suatu siang hari Jum'at aku bersama bapak hendak kerumah
nenek dengan naik 'Kol' (sebutan angkutan umum) di daerah tempat
tinggalku Banyuwangi. Rumah nenek yang berada di lain kecamatan,
mengharuskan kami untuk menempuh dengan cara naik Kol ataupun Bis.
Maklum, keluarga kala itu belum memiliki kendaraan pribadi, kecuali
hanya sebuah sepeda 'mini' milik kakak. Jadi, bila ingin bepergian, kami
harus selalu naik angkutan umum.
Berdiri dipinggir jalan di bawah pohon waru. Aku dan bapak dengan
setia menunggu kedatangan Kol walau agak lama. Teringat sesekali bapak
nampak
berdiri lalu duduk di jodok panjang saat aku tengah sibuk memungut bunga waru yang banyak berserakan.
Yah. Waktu itu dua pohon waru dipinggir jalan tengah berbunga.
Bunga-bunga dengan warna kuning cerah dan kecoklatan berserakan
memenuhi latar bengkel motor tempat kami menunggu angkutan yang akan
mengantarkan kami kerumah nenek.
Teringat juga kala itu aku melemparkan banyak bunga waru ketengah
jalan. Dengan perasaan girang aku melihat bunga-bunga waru dilindas
kendaraan yang melintas. Sesekali, aku juga tampil berani melambaikan
tangan kiri kesetiap kendaraan yang tengah melaju. Berharap ada
kendaraan yang akan berhenti.
Akhirnya setelah menunggu lama, satu montor (nama lain mobil) yang
tak lain adalah Kol perlahan menepi. Lalu, aku dan bapak pun bergegas
naik masuk ke dalamnya.
Selama diperjalanan, bapak mulai bercerita kalau tidak semua mobil
yang aku coba cegat selama menunggu adalah Kol atau kendaraan umum yang
bisa kami tumpangi.
Bapak mengatakan, ada perbedaan antara kol dan montor-montor yang
lain. "Lihat mobil itu, plat tulisan angkanya warnanya kuning, dan
itulah Kol". Ujarnya sambil menunjuk pada mobil yang diseberang jalan.
"Kalau yang plat nomor angka warna hitam itu bukan Kol, tapi
kendaraan pribadi. Dan tidak akan berhenti kalau dicegat. Yang platnya
juga warna kuning yaitu
bis. Lebih besar daripada Kol. Dan kalau dicegat pasti mau berhenti". Ceritanya.
Sejak saat itu aku tahu perbedaan kendaraan/transportasi umum dengan
kendaraan pribadi. Aku tahu mana mobil yang bisa aku cegat, ataupun
tidak.
Kini, setelah aku dewasa. Ilmu sederhana yang disampaikan bapak
waktu itu ternyata masih jelas membekas. Yah, rasanya memang nasihat
atau ilmu yang diperoleh dari orang tua lah, yang lebih mudah akan kita
ingat daripada ilmu yang kita peroleh dibangku sekolah.
Belasan tahun berlalu, sekarang bila aku sedang di kampung halaman. Kol sudah mulai
jarang aku temui. Gara-garanya mungkin tak lain karena masyarakat
sudah mulai banyak memiliki kendaraan pribadi, sehingga penumpang Kol
sangat
jauh berkurang. Padahal, dulu Kol selalu penuh dengan penumpang.
Terlebih saat pagi hari. Tampak para pelajar SMP maupun SMA berebut masuk terlebih dulu untuk bisa duduk di Kol dengan nyaman.
Sang waktu begitu cepat berlalu. KOL yang dulu menjadi primadona, kini riwayatnya seakan beranjak punah.
Akhir kata: Ayo! Jangan lupa naik transportasi umum .....
#Berkisah/32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar