Sebagai praktisi PR professional, Tunggul Haribowo mampu membawa perusahaan tempat dimana ia bekerja menjadi perusahaan yang minim akan konflik internal maupun eksternal. Dengan menejemen krisis yang ia sebut give-give solution PT. Chevron terbukti mampu meminimalisir terjadinya konflik yang sangat merugikan reputasi dan citra perusahaan. Dari sisi pribadi, Tunggul Haribowo terlihat sangat cakap akan dunia ke-PR an. Maklum saja ia telah sekitar 25 tahun menjadi professional PR diperusahaan tambang berskala nasional tersebut. Dengan pernah menjadi pelatih Tinju, Tunggul Haribowo mampu menjadikan pengalaman “keras” hidupnya sebagai referensi untuk melakukan pekerjaan sebagai praktisi PR. Terbukti dengan banyaknya pengalaman hidupnya, ia dapat memposisikan diri secara tepat dalam struktur sosial dalam masyarakat (sipil, awak media, dan birokrat).
Sementara itu dalam kesempatan memberikan materi pada Kuliah Luar Biasa Public Speaking Ilmu Komunikasi angkatan 2008 UMM yang bertempat di ruang Sidang Rektorat (10/6/11), Tunggul Haribowo banyak memberikan informasi dunia PR Profesional kepada mahasiswa yang hadir. Salah satu materi yang dikemukakan adalah bagaimana Teknik Negosiasi yang baik. Seperti yang ia jelaskan, teknik negosiasi itu bersifat situasional, dan harus melihat substansi dari case (masalah) yang tengah terjadi. Dalam teknik negosiasi, sebagai seorang PR harus tahu kapan memulai proses negosiasi, kapan harus stop (berhenti), dan kapan harus memulai negosiasi kembali. Selain itu, ia juga menjelaskan bagaimana pentingnya berfikir rasional dalam pengambilan keputusan. Hal yang sangat ia tekankan kepada para mahasiswa PR adalah “Jangan pernah memutus decition (keputusan) pada saat tengah dalam kondisi ter-pressure (tertekan). Hal tersebut menurutnya dapat merugikan diri sendiri karena harus menanggung resiko dari hasil yang telah kita putuskan.
Seperti yang saya tulis di awal, konsep menejemen krisis give-give solution menjadi fokus utama dalam setiap menyelesaikan masalah oleh Tunggul Haribowo. Dengan konsep tersebut, menurutnya seorang PR haruslah memiliki insting berfikir yang etis dalam bekerja. Ketika terjadi sebuah krisis diperusahaan, seorang PR harus mengakomodir setiap keinginan atau kemauan dari pihak luar yang terlibat krisis. Dengan ilustrasi “mereka (pihak luar) menuntut 5, maka kita (PR) juga ajukan 5”, give-give solution.
Di PT. Chevron, seorang PR haruslah memiliki kemampuan untuk mengontrol atau meminimalisir masalah. Dengan menentukan area kerja (ring 1, ring 2 dan ring 3) seorang PR akan mampu melokalisir permasalahan dan dapat dengan tepat merumuskan strategi penyelesaian masalah yang terjadi. Selain itu, penggunaan bahasa sebagai instrument komunikasi juga memiliki andil cukup strategis dalam menangani krisis. Menurutnya, seorang PR harus dan perlu berkomunikasi menggunakan bahasa yang digunakan oleh publiknya. Karena hal itu sangat berpengaruh atas keberhasilan pesan yang disampaikan oleh PR kepada publik. Inti dari semua hal itu adalah bagaimana seorang PR mampu berkomunikasi dengan baik.
Melakukan setting tempat pada saat terjadi demonstrasi juga memiliki strategi khusus. Yaitu dengan tetap bersikap tenang, tidak panik bahkan kalau perlu membiarkan para demonstran berlama-lama diluar. Hal ini dikarenakan nantinya pada saat perwakilan dari para demontrasn diterima oleh jajaran menejemen perusahaan, mereka sudah dalam kondisi fisik yang lelah dan tidak fokus, sehingga nantinya akan sangat menguntungkan pihak perusahaan dalam mendikte atau mengontrol kemauan dan tuntutan para demonstran tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menerima perwakilan demonstran adalah:
Tempat duduk menejemen perusahaan (PR) membelakangi sumber cahaya (sinar matahari atau lampu).
Prinsipnya, bersabarlah menunggu para demonstran mengeluarkan semua tuntutan-tuntutannya (keluarkan “peluru”nya terlebih dahulu).
Lakukan tekanan-tekanan pada saat kondisi perwakilan demonstran dalam kondisi fisik lelah dan tidak fokus/rasional.
Diakhir menyampaikan materi, Tunggul Haribowo juga menjelaskan pentingnya seorang PR memegang etika kebenaran dan tidak sungkan untuk melakukan permintaan maaf apabila itu memang sangat perlu dilakukan. Ia juga mengingatkan kepada semua yang hadir bahwa PR adalah jembatan yang terkadang juga dapat menjadi provokator. Oleh karenanya etika kebenaran itu penting dihayati.
Dalam menjalankan tugasnya, PR PT. Chevron tidak diperkenankan melakukan praktik suap kepada awak media (wartawan). Apabila itu terjadi, maka konsekuensianya adalah pemecatan.
Analisis Kesan (Impression Analysis)
Saya sangat terkesan dengan gaya bertutur Bpk. Tunggul Haribowo. Dalam menyampaiakan materi, beliau bersikap apa adanya dan sangat memperhatikan etika dalam berkomunikasi. Hal itu tercermin dalam pernyataannya diawal, bahwa beliau merasa sangat terkesan dapat memberikan materi kepada mahasiswa. Hal ini bagi saya pribadi,adalah sesuatu yang sederhana tapi sangat penuh arti. Secara keseluruhan, penyampaian materi tidak ada kekurangan, bahkan memiliki banyak kelebihan. Diantaranya adalah materi yang disampaikan adalah benar-benar materi yang sangat relevan dalam dunia mahasiswa Public Relations. Selain itu beliau mampu membuat peserta (mahasiswa) tertarik dengan gaya penyampaian materi yang ditandai adanya guyonan dan sesi tanya jawab.
Bpk. Tunggul Haribowo dalam menyampaikan materi juga banyak memberikan warna baru seputar dunia praktis PR. Pengalaman-pengalaman pribadi yang beliau sampaikan mampu menjadi “peluru” dalam membidik konsentrasi para peserta (mahasiswa) yang hadir. Dari sisi teknis, tidak ada masalah yang berarti dalam proses penyampaian materi oleh beliau. Over all, It’s OK.